Home About Coaching Training "Ruang Jeda" Books Contact | 🇮🇩ID 🇬🇧EN

Walk With Me

ASN Adalah Kita

Saya dibesarkan oleh bapak yang pegawai negeri. Mungkin karena terlalu dekat dengan dunia itu, sejak dulu saya sudah tidak punya minat jadi pegawai negeri. Saya cukup akrab dengan ritme hidup mereka, dengan struktur yang kuat, hierarki yang jelas, dan bahasa yang khas: “mohon arahan”, “menunggu petunjuk pimpinan”, sampai yang paling populer sekarang: “mohon izin.” Selama bertahun-tahun, itu ikut membentuk persepsi saya terhadap birokrasi dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Karena itu ada semacam ironi ketika puluhan tahun kemudian saya justru masuk kembali ke dunia tersebut sebagai coach dalam kegiatan ASN Coaching Lab, sebuah inisiatif dari Lembaga Administrasi Negara (LAN). Program ini antara lain ditujukan untuk menumbuhkan budaya coaching di sektor publik, memberikan layanan coaching bagi ASN, meningkatkan kapasitas kepemimpinan, dan mendorong kinerja pribadi, unit maupun organisasi.

Saat memulai program, saya bertemu dengan macam-macam orang dari berbagai daerah dan jenjang. Ada yang datang dengan persoalan yang masih sangat luas, ada yang belum benar-benar tahu agenda yang ingin dibawa, dan ada yang secara refleks justru meminta pendapat atau arahan dari coach. Bahkan ada yang awalnya masih takut-takut untuk bicara.

Jujur, awalnya saya sempat menganggap ini sebagai konfirmasi dari stereotip lama tentang ASN: terbiasa mencari arahan dan bekerja dalam struktur yang sangat hierarkis. Tapi setelah ngobrol one-on-one dengan beberapa coachee ASN yang dipasangkan dengan saya, saya mulai melihat persoalannya dengan cara yang sedikit berbeda.

Ternyata kebiasaan mencari arahan tidak selalu muncul karena seseorang tidak mampu berpikir atau mengambil keputusan. Jelas tidak! Alih-alih, bisa jadi ia tumbuh karena mereka memang berada dalam lingkungan di mana keputusan memiliki konsekuensi, struktur otoritas sangat jelas dan tegas, sehingga tak jarang mendapatkan arahan terasa lebih aman daripada mengambil pilihan sendiri.

Di situlah pengalaman coaching dengan teman-teman ASN ini menjadi menarik buat saya. Ketika seseorang tidak langsung diberi jawaban, tapi justru diberi ruang untuk mengurai pikirannya sendiri, sering kali ia mulai melihat pilihan yang sebelumnya tidak tampak. Ada hal-hal yang sebenarnya sudah ia ketahui tetapi belum pernah ia artikulasikan, atau keputusan yang sebenarnya sudah mulai terbentuk tetapi belum cukup jelas untuk diambil.

Saya mulai melihat bahwa fungsi coaching tidak selalu membawa seseorang pada jawaban yang sama sekali baru. Kadang yang dibutuhkan justru ruang untuk membuat seseorang lebih sadar terhadap apa yang sebenarnya sudah ia pikirkan, rasakan, dan pertimbangkan.

Namun tetap saja sepanjang proses coaching dengan rekan-rekan ASN, pertanyaan itu kembali mengusik pikiran: apakah kebiasaan mencari arahan itu memang khas ASN? Kalau dipikir-pikir, bukankah di perusahaan swasta sekalipun kita juga kadang berpikir atas dasar apa mau si bos? Dalam kehidupan pribadi, kita juga sering meminta teman memilihkan jalan yang menurut mereka paling masuk akal. Ketika keputusan terasa sulit, kita semua punya kecenderungan mencari orang lain untuk memberi kepastian.

Bedanya, di lingkungan birokrasi kebiasaan itu mungkin lebih terlihat karena bahasa, struktur, dan mekanismenya lebih formal.

Di titik itu rasanya saya paham kenapa gagasan membangun budaya coaching di kalangan ASN ini menarik. Bukan semata-mata soal memperkenalkan coaching sebagai teknik baru, tetapi karena coaching menawarkan jenis percakapan yang berbeda dari pola instruksional yang sudah sangat familiar di lingkungan birokrasi.

Ia memberi ruang bagi orang untuk berpikir sebelum diberi jawaban, mempertimbangkan pilihan sebelum menerima arahan, dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas keputusan sendiri.

Mungkin perubahan budaya seperti ini tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa saja dimulai dari satu kebiasaan sederhana: ketika seseorang datang dan berkata, “Mohon arahan,” kita tidak selalu harus buru-buru memberi jawabannya. Sesekali, kita bisa mengembalikan pertanyaan itu: “Kalau menurut Anda sendiri, bagaimana?”

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa di balik istilah ASN, jabatan, pangkat, struktur, eselon atau apa pun istilahnya itu, ada orang-orang yang pada dasarnya menghadapi hal yang sama seperti kita semua: keraguan, pilihan, tekanan, dan kebutuhan untuk merasa yakin pada keputusan sendiri.

Mungkin karena itu, semakin saya menjalani proses ini, semakin saya merasa bahwa ASN sebenarnya tidak sejauh yang sering kita bayangkan.

ASN adalah kita!

Tangerang Selatan, 31 Agustus 2026

rshm