Home About Coaching Training "Ruang Jeda" Books Contact | 🇮🇩ID 🇬🇧EN

Walk With Me

Coach

ciee-coach Sebut kata coach, dan yang pertama terdengar di kepala kita boleh jadi adalah suara peluit di pinggir lapangan.

Coach memang awalnya akrab dengan dunia olahraga. Tapi dalam dunia pengembangan diri, coach tidak berkalung peluit dan papan strategi. Ia tidak mengambil alih arah hidup si coachee. Ia hanya menemaninya untuk berhenti sebentar, melihat apa yang sedang terjadi, membaca ulang situasi, lalu memilih langkah berikutnya dengan lebih jernih dan penuh kesadaran.

Seorang CEO bisa punya coach. Dokter bisa punya coach. Seorang pendiri startup, seniman, penulis, pengajar, mahasiswa, pekerja kreatif atau siapa saja juga bisa punya coach, dan itu bukan berarti kita tidak kompeten.

Bill Gates dan Steve Jobs punya coach pribadi. Begitu juga Bill Clinton, Oprah Winfrey, Leonardo DiCaprio, Hugh Jackman, bahkan Serena Williams. Bukan karena mereka kurang mampu, melainkan karena sehebat apa pun seseorang, ada masa ketika ia butuh teman ngobrol yang tidak punya kepentingan apa pun selain membantunya menguji cara pandang dengan jujur. Seseorang yang bisa menemaninya melihat kembali potensi yang luput dari perhatian dan menata prioritas dalam hidup maupun karyanya.

Saya sangat tertarik pada gagasan itu.

Mungkin karena di dalam coaching ada sesuatu yang sejak lama akrab dengan pekerjaan saya:

Percakapan.

Selama bertahun-tahun, saya bekerja di dunia jurnalistik dan radio siaran, sebelum kemudian banyak bergerak di produksi podcast, storytelling, dan strategi komunikasi. Dalam perjalanan itu, bicara, bertanya dan mendengarkan selalu menjadi bagian penting dari keseharian saya.

Tapi semakin sering saya terlibat dalam percakapan dengan banyak orang, semakin saya merasa tidak semua percakapan membutuhkan jawaban cepat. Kadang yang dibutuhkan hanyalah ruang jeda. Ruang untuk berpikir, mendengar diri sendiri, dan menemukan langkah yang bukan berasal dari nasihat orang lain, tetapi dari kesadaran sendiri.

Bagi saya, jeda adalah cara melihat ulang arah sebelum kembali bergerak dengan lebih sadar. Dan setelah saya pelajari, ternyata seorang coach memang dilatih untuk menemani proses seperti itu. Inilah awal mula saya serius berpikir untuk mempelajari coaching.

Entah karena masih skeptis atau malah overthinking, saya lalu merasa dapat ide brilian sebelum memutuskan untuk benar-benar mulai belajar coaching secara proper: "Prosesnya harus diawali dengan coaching juga, guna memastikan ketertarikan saya ini bukan sekadar reaksi impulsif."

So that’s exactly what I did, though it took a little longer. 😊

Akhirnya, saya memutuskan ikut pelatihan dan sertifikasi di Loop Institute of Coaching, salah satu pionir pengembangan coaching profesional di Indonesia. Pendekatannya berbasis kompetensi International Coaching Federation (ICF), federasi global yang menjadi salah satu rujukan utama profesi ini.

Selama proses itu, saya justru banyak belajar menahan diri dan mendengar dengan lebih dalam. Belajar untuk tidak buru-buru menyimpulkan, tidak cepat-cepat memberi nasihat, apalagi memaksakan pengalaman saya menjadi peta jalan bagi orang lain.

Yah maklumlah, orang tua yang satu ini kadang merasa sudah kenyang makan asam garam dunia, lalu lupa bahwa pengalaman hidupnya bukan otomatis peta jalan bagi orang lain.

Tentu saja, saya juga banyak belajar dari sesama peserta, para “coach-in-progress” yang hebat-hebat, dari beragam latar profesi.

>>Fast-forward tujuh bulan kemudian.

Sampailah kita di artikel yang sedang Anda baca ini. Ini adalah wujud ruang jeda saya setelah selesai pelatihan, untuk sejenak bertanya pada diri sendiri:

“Dari sini saya mau ke mana, ya?”

Hmm.. Menjadi seperti Bill Campbell yang dijuluki "The Trillion Dollar Coach", atau ikut jejak Tony Robbins yang dikenal sebagai coach-nya Presiden Bill Clinton, sepertinya boleh juga masuk daftar mimpi.

Hey, mimpi bisa jadi nyata, toh? 😊

Tapi seriously, untuk saat ini, saya mau mulai dari ranah yang paling dekat dengan hidup dan pekerjaan saya selama 30 tahun terakhir ini.

Saya ingin menemani mereka yang sedang berkarya dan berkreasi. Orang-orang yang sedang menulis buku, skripsi atau thesis; mengajar atau belajar; membuat konten; membangun proyek pribadi atau pekerjaan; memulihkan ritme kerja; keluar dari kebuntuan; atau mencari kembali sisi kreatif yang mungkin sudah terlalu lama tertutup oleh rutinitas dan suara bising di kepala.

Saya memutuskan untuk fokus pada creativity coaching.

Bagi saya, creativity coaching bukan kelas teknik kreatif, bukan sesi konsultasi, konseling, atau motivasi. Dengan kata lain, ini bukan tempat untuk menerima resep jadi.

Saya tidak hadir sebagai orang yang merasa paling kreatif atau paling tahu jawabannya. Justru saya percaya, setiap orang punya caranya sendiri dalam berkreasi. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah teman untuk menemukan dan menatanya kembali.

Ya, itu yang akan saya lakukan dengan ilmu baru ini.

Tapi bagaimana kalau kita mulai berkenalan dulu. Sila mampir ke rumah coaching saya di:

suarane.id/coaching

Walk with me.

-Antara Makassar dan Watan Soppeng, 5 Juli 2026
Setelah tujuh bulan yang panjang dan menantang, perjalanan baru mulai terbentang.
rshm