Hemingway, Gunung Es, dan Seni Mengurangi
Saya termasuk yang telat membaca buku The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Padahal kurang terkenal apa novel ini? Diganjar Anugerah Pulitzer tahun 1953, bahkan tahun 1954 penulisnya meraih Anugerah Nobel Sastra.
Tapi justru mungkin sudah begitu jalannya, karena selain menikmati setiap jalinan kata yang ditulis Hemingway, saya malah menemukan sesuatu yang tidak dikatakannya tapi menjadi pelengkap keindahan novel ini.
The Old Man and The Sea premisnya sederhana saja (tenang, nggak ada spoiler): seorang nelayan tua bernama Santiago pergi melaut. Ia sudah lama sekali tidak mendapat ikan, namun ia terus saja melaut. Suatu hari ia bertarung dengan seekor ikan marlin besar, dan akhirnya pulang dengan sisa-sisa perjuangan.
Di novel ini saya menemukan banyak kalimat yang tampak datar, sederhana, pendek, biasa, bahkan seperti tidak sedang berusaha menjadi indah. Tetapi di balik kalimat-kalimat itu ada sesuatu yang dalam dan lebih luas lagi. Saya bisa ikut membaca perasaan Santiago. Usianya yang sudah lanjut, kesepian, keras kepala, harga diri, rasa bersalah, harapan, dan semacam keteguhan yang tidak perlu dituliskan secara harafiah, tapi sangat terasakan.
Lalu saya menemukan bahwa cara menulis Hemingway ini bukan sebuah kebetulan.
Teori Gunung Es
Ernest Hemingway ternyata pernah menjelaskan tentang gaya menulis yang kemudian dikenal sebagai iceberg theory, atau theory of omission. Ia menulis tentang ini dalam bukunya Death in the Afternoon. Ini adalah buku nonfiksi terbitan tahun 1932 yang berlatar obsesinya terhadap adu banteng di Spanyol, tetapi di dalamnya ia juga membicarakan gaya penulisan.
Intinya Hemingway bilang, kalau seorang penulis benar-benar memahami apa yang ia ingin katakan, ia tidak perlu menuliskan semuanya. Pembaca tetap akan merasakan kedalaman itu, asal tulisan tersebut berdiri di atas pemahaman yang sungguh-sungguh. Hemingway membandingkannya dengan gunung es yang mengapung di laut, yang kekuatannya berasal dari bagian besar yang tidak terlihat di bawah air.
Ini yang menjelaskan gaya tulisannya yang sederhana dan singkat, seolah ada kata atau kalimat yang seharusnya bisa ditulisnya dengan lebih panjang lagi. Tapi anehnya, kita bisa memahami bahkan merasakannya.
Ini salah satu penggalan novel The Old Man and The Sea yang saya suka:
"Every day is a new day. It is better to be lucky. But I would rather be exact. Then when luck comes you are ready."
Setiap hari adalah hari baru. Lebih baik memang kalau kita beruntung. Tapi saya lebih memilih untuk bekerja dengan tepat. Dengan begitu, ketika keberuntungan datang, kita sudah siap.
Konteks penggalan tulisan ini adalah ketika tokoh Santiago, si Lelaki Tua, sudah 84 hari melaut tanpa menangkap ikan seekorpun, sampai-sampai ia dianggap pembawa sial.
Di permukaan, Santiago sedang bicara soal harapan terhadap hari baru dalam memancing. Di bawah permukaan, ia sedang mempertahankan hidupnya sebagai nelayan, sebagai orang tua, sebagai seseorang yang sudah lama gagal tapi ia tidak mau mendefinisikannya sebagai kegagalan. Ia hanya berusaha realistis.
Lewat penggalan ini saya merasa Santiago bukan orang yang menyerah pada nasib, tapi ia juga bukan orang yang sok optimis. Ia realistis. Ia tahu dalam hidup ada yang tidak bisa ia kendalikan. Tapi ia juga tahu bahwa menyerahkan semuanya kepada keberuntungan adalah bentuk kekalahan yang terlalu cepat.
Dan itu ia tulis dengan gaya bahasa yang sederhana, singkat, tidak pretensius. Padahal bisa saja ia menulis "Besok keberuntungan akan ada di pihakku!"
Inilah kekuatan Hemingway. Kalimat tentang ketangguhan atau keberuntungan tidak dibiarkan berdiri sendirian seperti poster-poster motivasi itu. Di sekitarnya ada rasa bersalah, kehilangan, bahaya, dan kesadaran bahwa keberuntungan pun tidak menghapus konsekuensi.
Creativity is Subtraction
Dalam kreativitas, teori Gunung Es Tuan Hemingway ini memberi satu pelajaran penting:
Karya yang kuat sering tidak muncul dari keinginan menjelaskan semua hal. Banyak karya justru melemah karena terlalu banyak memberi tahu. Penulis ingin memastikan pembaca mengerti. Pembicara ingin memastikan audiens menangkap maksudnya. Kreator ingin semua pesan terlihat jelas. Akhirnya, tidak ada ruang tersisa bagi pembaca, pendengar, atau penonton untuk ikut bekerja, untuk ikut merasa.
Saya jadi ingat pada Austin Kleon, penulis dan seniman visual asal Amerika yang banyak menulis tentang kreativitas, kerja kreatif, dan bagaimana ide berkembang di tengah budaya digital.
Dalam bukunya yang terkenal, Steal Like an Artist, Kleon mengulas 10 prinsip tentang kreativitas. Saya tidak mau kutip semua. Silakan baca bukunya dan sangat saya rekomendasikan. Tapi ada satu prinsip yang bunyinya singkat saja:
Creativity is Subtraction.
Creativity is subtraction atau kreativitas adalah soal mengurangi, menurut saya bisa dipahami begini:
Kreativitas bukan selalu soal menambah ide, referensi, gaya, atau berbagai kemungkinan. Di dunia yang sudah terlalu penuh informasi, kemampuan kreatif justru sering terletak pada keberanian memilih apa yang perlu ditinggalkan.
Bagi Kleon, keterbatasan bukan musuh kreativitas. Justru sering kali dari keterbatasan itulah karya terbaik muncul. Tapi ini bukan berarti sebuah karya harus selalu pendek atau minimalis.
Ini adalah soal kemampuan mengurangi: mengurangi gangguan, mengurangi pilihan, mengurangi penjelasan, dan mengurangi bagian yang tidak perlu, agar bagian yang paling penting justru bisa muncul lebih jelas.
Dalam konteks Hemingway, ini nyambung dengan Iceberg Theory: kekuatan karya kadang bukan berasal dari semua hal yang ditampilkan, tetapi dari kemampuan kreatornya memilih apa yang cukup ditampilkan, dan apa yang lebih baik dibiarkan bekerja "di bawah permukaan."
Dengan kata lain, kreativitas bukan hanya kemampuan menghasilkan sesuatu. Kreativitas juga kemampuan menentukan apa yang tidak perlu ditampilkan.
Sering dalam berkarya kita terlalu sibuk bertanya, “Apa lagi yang kurang ya? Apa lagi yang bisa ditambahkan?”
Nah, sesekali coba ganti pertanyaan itu dengan: “Apa yang bisa saya hilangkan agar yang utama lebih terasa?”
Karena kadang, yang membuat sebuah karya kuat bukan hanya apa yang ia katakan. Tapi juga apa yang ia percayakan kepada kita para audience, pembaca, pendengar atau penonton, untuk merasakannya sendiri.
Dari Santiago untuk Kita yang Sedang Berkarya
Terakhir, saya mau meninggalkan teman-teman dengan satu pertanyaan yang semoga bisa memicu gagasan bagi kalian yang tengah berkarya.
Dalam satu bagian novel The Old Man and the Sea, Santiago diceritakan akhirnya berhasil menangkap marlin besar namun hanya bisa mengikatnya di samping perahu saking besarnya ikan itu. Namun darah ikan itu menarik hiu-hiu untuk datang. Si Pak Tua melawan sekuat tenaga, dan itu membuatnya kelelahan, terluka, kehilangan harpun. Di tengah keadaan itu, ia seperti sedang bicara kepada dirinya sendiri:
“Now is no time to think of what you do not have. Think of what you can do with what there is.”
Sekarang bukan waktunya memikirkan apa yang tidak kamu miliki. Pikirkan apa yang bisa kamu lakukan dengan apa yang ada.
Nah, bayangkan kalian adalah Santiago. Ganti perahu, marlin, harpun, kelelahan, dan kawanan hiu itu dengan kondisi kalian sendiri saat sedang berkarya.
Pertanyaannya sekarang adalah: dengan yang masih ada pada diri kalian, apa yang masih bisa dilakukan?
Tangsel, 19 Mei 2026