Home About Coaching Training "Ruang Jeda" Books Contact | 🇮🇩ID 🇬🇧EN

Walk With Me

730: Koran Pagi Khusus Buat Saya

Tujuh-Tiga-Puluh-LinkedIn-1920x1080

Salah satu buku yang banyak menyita perhatian saya akhir-akhir ini adalah The Next Journalism karya Tom Rosenstiel.

Gagasan yang menarik perhatian di buku itu adalah melihat jurnalisme bukan semata-mata sebagai produk, melainkan sebagai service. Jadi pertanyaannya bukan lagi hanya: berita apa yang harus kita produksi hari ini? Tapi juga: apa yang dibutuhkan orang dari jurnalisme agar mereka bisa menjalani hidup dengan lebih baik?

Di bukunya Rosenstiel menyebut perlunya pergeseran dari journalism of attention menuju journalism of value. Di tengah ekonomi digital yang hampir semuanya berebut perhatian kita, jurnalisme mestinya menawarkan sesuatu yang lebih berguna daripada sekadar alasan untuk mengklik headline berikutnya.

Gagasan itu kemudian bertemu dengan eksperimen kecil saya menggunakan AI.

Bagaimana Kalau Audiensnya Cuma Satu Orang?

Setiap pagi saya sebenarnya punya kebutuhan informasi yang cukup sederhana:

Saya mau tahu apa agenda saya hari itu. Saya mau tahu satu atau dua perkembangan penting di Indonesia yang terjadi ketika saya tinggal tidur. Saya masih mau melihat beberapa headline lain, tapi nggak perlu semuanya dijelaskan panjang lebar. Saya nggak punya kemewahan waktu untuk mencerna semuanya.

Lalu, karena pekerjaan dan rasa ingin tahu saya banyak bersinggungan dengan media, journalism, storytelling, podcasting, buku, kreativitas dan belakangan coaching, saya ingin menemukan dua-tiga bacaan yang kemungkinan memang menarik buat saya.

Nggak perlu 30 link yang pastinya tidak bakal terbaca semua. Cukup yang perlu saya tahu, dan untuk itu saya yakin ChatGPT sudah cukup mengenal saya dan minat saya saking seringnya saya jadikan teman diskusi.

Dari situ muncul pertanyaan: kalau AI sudah cukup mengenal kebutuhan dan minat kita, mungkinkah ia membuat sebuah morning briefing yang audiensnya cuma satu orang? Dia tidak perlu mengarang berita, karena sudah ada di media mainstream. Tinggal cari yang cocok berdasarkan sejarah interaksi saya dengan AI dan juga history browser saya.

Mulailah saya bereksperimen dengan ChatGPT, asisten pribadi yang saya beri nama Neng Ayi:

Hey Neng Ayi, setiap pukul 7.30 pagi, baca Google Calendar saya dan ingatkan apa saja agenda saya hari itu. Lalu lihat apa yang terjadi di Indonesia dalam semalam, pilih satu berita yang paling layak saya tahu sebagai berita utama, lalu berikan lima headline lain. Setelah itu, carikan beberapa bacaan yang menurut kamu kemungkinan akan saya suka. Tidak perlu banyak. Cukup yang menurut sejarah interaksi kita, menurutmu akan menarik buat saya. Jangan lupa linknya. Terakhir, berikan satu pertanyaan ala coaching untuk saya pikirkan sambil ngopi. Bukan nasihat. Bukan motivational quote (Kamu tahu kan saya nggak suka itu). Cuma satu pertanyaan yang cukup bagus untuk menemani perenungan pagi saya sambil ngopi. Hadirkan setiap jam 7.30 pagi dalam bentuk teks dan juga PDF. Let's go!

Personalisasi Bukan Sekadar Rekomendasi

Kita sebenarnya sudah lama hidup dengan personalisasi. Spotify memilihkan lagu. Begitu juga dengan YouTube memilihkan video dan TikTok memilihkan apa yang akan muncul berikutnya.

Tapi sebagian besar sistem itu berangkat dari pertanyaan yang kurang lebih sama:

Apa yang kemungkinan membuat orang ini terus mengonsumsi?

Kalau memakai gagasan journalism as service, pertanyaannya bisa berbeda: Apa yang berguna untuk orang ini hari ini?

Bedanya tipis, tapi menurut saya penting.

Karena personalized journalism seharusnya bukan berarti setiap orang mendapat fakta yang berbeda sesuai seleranya. Itu malah berbahaya karena membuat filter bubble kita makin tebal. Ibarat katak dalam tempurung, kita akan makin terkungkung di dalamnya.

Fakta dan kerja jurnalistiknya tetap berasal dari ruang publik yang sama. Yang menjadi personal adalah service layer-nya: mana yang relevan buat berdasarkan minat saya dan bukan keyakinan saya, urutannya, seberapa dalam saya perlu mengetahuinya, kapan disajikan, dan bahkan bagaimana bentuk penyajiannya.

AI, dengan kata lain, mungkin bukan pengganti newsroom. Ia menjadi interface antara jurnalisme dan satu manusia: saya.

Lalu Saya Mulai Jadi Redaktur yang Cerewet

Versi pertama tentu saja belum seperti yang saya mau. Itulah AI. Jangan mudah puas dengan apa yang dia buat. Pasti banyak yang salah, banyak yang tidak sesuai keinginan.

Hasil pertama buatan si Neng Ayi terlalu banyak informasi, layout-nya berantakan, font kekecilan, masih banyak white-space yang bisa diisi.

Maka dimulailah pekerjaan yang sangat familiar buat seorang redaktur.

“Yang ini buang.” “Berita utama cukup satu.” "Headline jangan kepanjangan.“ "Bagian ini bikin dua kolom.” “Mendingan ada white-space yang banyak di bagian akhir lalu beri garis seperti buku tulis.”

Dari situ saya menyadari sesuatu: personalisasi bukan hanya soal AI mengetahui apa yang saya sukai. Ia juga harus belajar bagaimana saya ingin dunia disunting sesuai kepentingan saya. Tapi semua itu sifatnya teknis. Konten jurnalismenya sendiri tetap sama.

Teknologi Baru, Bentuk Lama

Setelah beberapa kali revisi, eksperimen ini akhirnya punya bentuk.

Namanya: Tujuh Tiga Puluh.

Setiap pagi pukul 07.30, saya menerima tiga hal sekaligus: personalized news, agenda reminder, dan ruang untuk catatan harian.

Ia memberi tahu apa yang terjadi di luar sana, mengingatkan apa yang menunggu saya hari ini, lalu menyediakan satu pertanyaan dan sedikit ruang kosong untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam diri saya sendiri.

Dan karena saya generasi yang masih punya hubungan sentimental dengan media cetak, semuanya dibuat menjadi PDF dengan layout seperti koran. Di bagian belakang bahkan ada garis-garis kosong tempat saya bisa menulis baik saat dicetak, atau ditulis di HP atau tablet saya.

Ada sesuatu yang menyenangkan sekaligus ironis di situ.

Saya menggunakan salah satu teknologi paling baru untuk membuat sesuatu yang bentuknya sangat tua: koran pagi.

Tapi mungkin ini juga salah satu kemungkinan kecil dari The Next Journalism yang dibicarakan Rosenstiel. Reporter tetap meliput. Newsroom tetap melakukan verifikasi. Jurnalis tetap melakukan investigasi dan membangun sumber.

Tapi last mile antara semua kerja jurnalistik itu dan pembacanya mungkin akan berubah.

Setiap pagi sekarang saya punya eksperimen kecil tentang kemungkinan itu.

Namanya Tujuh Tiga Puluh.

Redakturnya AI. Sumber beritanya tetap jurnalisme, dan pemimpin redaksi yang cerewet: saya. (Emang kenapa? Koran-koran gue? Lo bikin sendiri dong.. Hehehe)

Inikah Koran Masa Depan Itu?

Sambil membaca hasil karya koran pagi itu, saya jadi overthinking plus kepedean.

Saya bayangkan para jurnalis dan medianya tetap mencari berita yang cover both sides, tetap berpihak pada pembaca dan mematuhi semua unsur element of journalism-nya Kovach dan Rosenstiel yang jadi panduan para jurnalis selama berpuluh-puluh tahun terakhir.

Tetapi mereka juga menyediakan layanan yang membuat koran itu bukan hanya jadi sekadar agregat yang terpersonalisasi, tapi benar-benar menjadi kebutuhan pribadi, mulai dari mengingatkan agenda pagi bahkan sampai ada ruang untuk perenungan dalam memulai hari.

Hmm, inikah ini koran masa depan itu?

Ya paling tidak saya sudah merasa mengintip masa depan. Setiap pagi koran itu diantar loper bernama ChatGPT, khusus untuk saya. Sambil ngopi pagi, saya bisa baca lalu mencoret-coret. Terus saya kumpulkan jadi satu. Saya bayangkan punya arsip peristiwa dan juga catatan harian jadi satu dan akan saya arsip rapi sebagai catatan perjalanan hidup.

Mungkin juga istilah koran masa depan terlalu berlebihan. Jangan-jangan bentuknya bisa jauh berbeda. Bahkan istilah koran mungkin sudah tidak tepat. Ya maklumlah, saya generasi baca koran pagi sambil ngopi. Mungkin generasi lain akan beda wujudnya.

Kalau mau lihat contoh koran pagi Tujuh Tiga Puluh saya, bisa download di sini.

Siapa tahu ada yang tertarik untuk juga membuat hal sama dengan asisten ChatGPT masing-masing. Penasaran mau lihat hasilnya.

Tangsel, 3 Oktober 2026

rshm