Rasa Tanpa Rasa
Ada satu latihan sederhana yang hampir selalu saya gunakan untuk memecah kekakuan di awal pelatihan storytelling, public speaking, penulisan naskah, atau creative thinking.
“Pikirkan satu macam makanan dan ceritakan rasanya. Tapi ada satu aturan: jangan gunakan kata yang menggambarkan rasa. Tidak boleh ada kata manis, asin, pedas, pahit, gurih. Bahkan tidak juga boleh menyebut kata rasa atau enak.”
Biasanya ruangan langsung berubah riuh. Ada yang tertawa, ada yang bingung, ada yang kelihatan berpikir keras.
“Lho, kalau tidak boleh menyebut rasa, terus ceritanya bagaimana?” Memang ada saja yang protes.
Saya bergeming dan memaksa mereka mencoba dulu.
Ketika "Jalur Cepat" Ditutup
Otak kita biasanya mengambil jalan paling cepat. Ketika bicara makanan, yang langsung muncul di kepala hampir selalu lima unsur rasa dasar.
Tapi ketika "jalur cepat" itu ditutup, sudah sifat manusia untuk mencari jalur pemahaman lain yang terkait makanan yang pernah mereka tahu, seperti bentuk, ukuran, tekstur, aroma bahkan pengalaman dan suasana.
Seperti cerita peserta yang satu ini:
“Saya makan ini setiap Lebaran di rumah nenek. Setelah bermaaf-maafan dengan para sepupu sepulang sholat Ied, nenek biasanya ke dapur lalu kembali membawa sebuah kaleng besar yang langsung kami serbu begitu tutupnya dibuka. Belum sempat kaleng itu diletakkan di meja, tangan-tangan kami sudah berebutan mengambil isinya sambil tertawa dan berteriak-teriak riuh. Tapi begitu masing-masing memasukkannya ke mulut, ruangan mendadak hening.”
Ceritanya panjang dan deskriptif. Tapi bagian "ruangan yang mendadak hening" itu benar-benar mengena, memicu visual yang menjelma rasa. Seketika kita bisa membayangkan makanan itu. Sama atau tidak dengan yang dibayangkan si pencerita tidak lagi penting.
Ada juga yang bercerita seperti ini:
"Begitu masuk mulut, mata langsung terpejam erat, bibir terkatup kuat, sampai pipi tertarik jauh ke samping. Air liur juga mulai menetes," ia bercerita sambil memamerkan ekspresi wajahnya.
Otak langsung mengaitkan dengan makanan yang bisa memicu ekspresi itu begitu masuk mulut.
Para peserta lainnya mulai tergoda dan berebut bercerita dengan cara masing-masing, ditingkahi tawa para peserta lainnya.
Seperti cerita yang sangat singkat ini:
"Srupuuut.." lalu disusul teriakannya yang keras dan kasar, "AAAAAHHHH!!"
Semua terbahak. Ada yang bertepuk tangan. Beberapa mengangguk-anggukkan kepala.
Melihat Dari Sudut yang Berbeda
Latihan kecil ini hampir selalu menghasilkan kejutan. Begitu diberi batasan, orang mulai menemukan bahwa pengalaman makan ternyata tidak hanya tentang rasanya, tapi juga tentang "rasa".
Cerita yang muncul justru sering menjadi lebih hidup, dan di situlah inti latihannya.
Sering kali kreativitas tidak muncul karena kita kekurangan ide. Ia muncul ketika kita dipaksa meninggalkan cara lama yang terlalu mudah dan sudah menjadi kesepakatan bersama.
Ternyata satu batasan kecil itu bisa membuka cara melihat yang sama sekali berbeda.
Nah, sekarang sekarang giliran Anda:
"Pikirkan satu jenis makanan yang rasanya manis dan ceritakan tanpa menggunakan kata manis”.
Buat bahan ngegombal juga boleh :)
Go! :)
Tangsel, 13 Maret 2026
