"Ruang Jeda"
Catatan: Saya memutuskan untuk membuat satu payung baru bagi tulisan-tulisan saya. Payung baru itu bernama "Ruang Jeda". Ini adalah artikel pengantar yang mendasari gagasan tersebut. Bisa dibaca di blog ini, atau dilanggani melalui LinkedIn Newsletter saya.

Kita hidup di zaman yang sangat rajin menyuruh orang bergegas.
Pokoknya harus lebih cepat. Lebih produktif. Lebih kreatif. Lebih terlihat. Lebih relevan. Lebih siap menghadapi perubahan.
Di banyak ruang, tuntutannya kurang lebih sama: terus menghasilkan ide, terus belajar, terus menyesuaikan diri, terus terlihat mampu, terus mengejar perkembangan zaman.
Tapi sering kali kita terlalu sibuk bergerak sampai lupa mendengarkan pikiran sendiri dan tidak sempat mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Boleh jadi ini waktunya memberi jeda sejenak.
Jeda ya. Bukan menyerah, apalagi berhenti selamanya. Hanya berhenti sebentar. Mengambil napas. Menengok lagi situasi. Mencoba memahami, sebenarnya kita sedang diburu apa.
Saya menyebut ruang ini: "Ruang Jeda".
Ini adalah catatan-catatan saya tentang cara kita bekerja, berkarya, belajar, mengajar, dan berkomunikasi, yang saya tulis di saat jeda.
Bukan karena saya sudah tahu jawabannya. Justru karena saya sendiri juga sedang mencoba memahami apa yang sedang saya pikirkan, kerjakan, tunda, kejar, atau malah dikejar oleh makhluk bernama tenggat itu.
Dalam proses kreatif, jeda kadang mudah disalahpahami sebagai kemalasan. Padahal bisa jadi yang kita butuhkan bukan dorongan untuk lebih cepat, tapi sedikit ruang untuk melihat ulang apa yang sedang kita lakukan dan kenapa itu penting.
Soalnya kreativitas kalau terus-menerus diperlakukan sebagai tuntutan, lama-lama bisa terasa seperti beban. Karena itu sesekali ia juga butuh ruang untuk bernapas.
Kasihlah jeda sebentar, kawan.
Kadang terlalu cepat malah bikin lupa arah. 😁
Tangsel, 22 Juni 2026
