
Mainan Truk Kayu Jelek
Ada alasan di balik bertaburannya ilustrasi anak kecil dan mainan truk kayunya di website ini. Bukan sekadar untuk ornamen agar tampak imut. Bukan.
Ini adalah sebuah pengingat.
Ceritanya begini..
Saya masih kelas tiga SD ketika itu. Keluarga kami tinggal di sebuah kompleks kecil rumah dinas sebuah desa di Lampung Tengah. Di depan kompleks ada lapangan bola yang menjadi pusat hampir semua permainan anak-anak di desa itu.
Saat itu ada satu mainan yang sangat populer: truk kayu.
Bentuknya mirip sekali truk sungguhan. Kayunya halus, rodanya bulat sempurna, baknya luas dengan warna-warni cat seperti truk asli. Beberapa bahkan memiliki suspensi dan sering jadi bahan modifikasi beramai-ramai. Kalau hasilnya membuat truk kayu itu bisa berjalan stabil saat dimuati batu atau pasir, kami semua bersorak girang.
Sudah tentu saya ingin punya satu dan saya utarakan pada bapak. Tapi alih-alih membelikan, ia malah menyuruh saya membuatnya sendiri.
Ia mengumpulkan papan bekas untuk badan truk, batang kayu untuk roda, dan potongan ban bekas untuk melapisi roda dan menunjukkan saya cara membuatnya. Ia terus memandu sepanjang proses pembuatannya.
Seperti apa hasilnya?
Truk yang satu ini bentuknya kaku. Tidak ada ornamen warna seperti truk betulan. Hanya warna hijau muda dari sisa cat dinding rumah. Rodanya terlihat aneh karena dilapisi karet. Kabinnya kosong. Tidak ada kemudi. Tidak ada dashboard. Dan yang paling menyebalkan, tidak ada suspensinya! Huh! Truk apa tidak punya suspensi?
Hari itu jalan menuju ke lapangan tempat kami biasa bermain terasa lebih jauh dari biasanya. Mainan truk hijau muda itu terasa berat ketika saya tarik dengan tali plastik. Bukan karena bobotnya. Tetapi karena perasaan yang ikut tertarik bersamanya.
Di lapangan, mainan truk-truk kayu lain sudah berjejer. Mengilap. Rapi. Beberapa anak sedang mengutak-atik suspensinya supaya bisa membawa muatan lebih banyak tanpa terguling.
Ketika saya datang, semua mata langsung tertuju pada truk hijau itu.
Mereka menghampiri, membolak baliknya, melihat konstruksi bannya, dan sesuatu diluar dugaan terjadi.
Teman-teman ternyata menyukai truk itu.
Mungkin karena berbeda. Mungkin karena ternyata sangat kuat. Truk itu bisa memuat lebih banyak pasir dan batu. Tidak seperti beberapa truk lain yang terlihat bagus tapi ringkih. Mungkin juga karena kami sudah bosan dengan mainan truk lain yang semua sama.
Akhirnya kami malah asik mengutak-atik mainan truk itu bersama-sama.
Beberapa teman mencoba menambahkan suspensi sederhana yang dibuat dari potongan besi yang dilengkungkan. Yang lain memperbaiki rodanya agar lebih mulus saat dipakai di jalanan.
Truk kayu jelek tadi justru menjadi pusat perhatian hari itu.
Kalau mainan bisa bicara seperti di film Toy Story, mungkin truk kayu yang lain itu sudah menangis karena diacuhkan.
Bertahun-tahun kemudian saya mulai memahami sesuatu dari pengalaman itu.
Sejak kecil sebenarnya kita sudah kreatif.
Anak-anak punya dunia sendiri yang tidak dipahami orang dewasa. Mereka membuat mainan sendiri. Mereka mengubah benda-benda di sekitar menjadi cerita, tak jarang disela omelan orang dewasa yang tidak paham apa yang kita lakukan.
Tetapi seiring berjalannya waktu, kita berubah. Kita merasa menjadi berbeda itu tidak nyaman. Menjadi sama dengan yang lain terasa lebih aman.
Butuh waktu lama sampai akhirnya kita sadar bahwa berbeda justru bisa menjadi kekuatan.
Gambar anak kecil yang menarik truk kayu di halaman depan website ini adalah pengingat tentang hal itu.
Tentang seorang anak yang dulu malu dengan truk kayu hijau buatannya sendiri.
Dan tentang perjalanan panjang untuk akhirnya memahami bahwa kreativitas sering kali lahir dari sesuatu yang sederhana, tidak sempurna, dan berbeda dari yang lain.
Tangsel, 8 Maret 2026
·Dedicated to my late Dad and Mum, who first opened the door to the world of creativity for me. Al Fatihah..