Home About Coaching Training "Ruang Jeda" Books Contact | 🇮🇩ID 🇬🇧EN

Walk With Me

boy-pull-trick

Mainan Truk Kayu Jelek

Pengantar: Ada alasan di balik bertaburannya ilustrasi bocah tambun dan mainan truk kayunya di website ini. Bukan sekadar untuk ornamen agar tampak imut. Bukan. Ini adalah sebuah pengingat.

Ceritanya begini..

Di depan kompleks rumah dinas di sebuah desa di Lampung Tengah, tempat keluarga kami tinggal dulu semasa saya kecil, ada sebuah lapangan sepakbola.

Lapangan itu adalah dunia kami sehari-hari. Di sanalah kami biasa bermain sampai sore, bertengkar karena aturan permainan yang berubah-ubah, berdamai lagi tanpa banyak bicara, lalu berlarian pulang ketika orang tua mulai memanggil, saat langit perlahan berubah jingga dan dari “TOA" masjid di kejauhan terdengar suara Pak Marbot mulai mengetuk-ngetuk mikrofon sambil berdeham-deham.

Di salah satu sudut lapangan itu kami biasa berkumpul. Di sana apapun bisa berubah menjadi apa saja. Tumpukan pasir menjadi gunung. Tanah menjadi jalan. Semak-semak menjadi hutan. Parit kecil menjadi sungai. Potongan kayu menjadi jembatan, dan ada satu hal yang selalu menjadi pusat perhatian di dunia rekaan kami ketika itu:

Mainan truk kayu!

Mainan itu bentuknya mirip sekali truk sungguhan yang sering lewat di pinggir desa kami dalam perjalanan lintas Jawa - Sumatera. Kayunya halus mulus. Rodanya bulat sempurna. Baknya luas lega. Catnya warna-warni, lengkap dengan berbagai macam lukisan warna-warni. Kadang di bagian bak belakangnya ada tulisan-tulisan seperti “Doa ibu” atau “Kutunggu jandamu.” Entah apa artinya, buat kami lucu saja.

Saking realistisnya, truk mainan itu bahkan punya suspensi sederhana yang sering kami utak-utik beramai-ramai. Setelah selesai, bak truk kami muati batu, pasir atau apapun yang ada di sekitar kita, lalu ditarik dengan tali plastik keliling lapangan sambil bersorak-sorak dan tertawa saat ada truk yang terguling.

~~~

Kalau tak silap, saya masih kelas tiga SD ketika pertama kali benar-benar menginginkan truk seperti milik teman-teman lain. Bayangkan, mulai dari anak kapolsek sampai anak tukang warung, semua punya.

Maka kepada bapak saya pun merengek.

Tapi bapak punya rencana lain.

Alih-alih memberi uang, ia malah mengumpulkan papan-papan bekas, batang-batang pohon, ban dalam sepeda bekas, sisa cat dinding, dan membawanya ke satu sudut di samping rumah.

Kalau tidak ke kantor, bapak memang punya hobi bertukang. Mulai dari rak buku, lemari pajangan, sampai tempat tidur di rumah, hampir semua ia buat sendiri. Bahkan beberapa patung penghias rumah juga hasil karyanya, kecuali satu patung ukiran burung Garuda Pancasila yang ia beli entah di mana. Di Yogya kalau tidak salah.

"Kita bikin sendiri!" katanya singkat, sambil menggulung sarung buluknya. Perasaan saya bilang, ini bakal menghabiskan waktu seharian. Benar saja.

Hari minggu itu, dari pagi sampai waktu makan siang ia mengajari saya cara menggergaji papan-papan bekas, memotong batang kayu menjadi bulatan-bulatan, memaku sambungan-sambungan, mengamplas, mengecat. Pegal-pegal tangan ini dibuatnya.

Hasilnya?

Begini saja. Bapak memang ahli bertukang. Tapi dia lebih fokus pada kegunaan dan kekuatan ketimbang estetika. Ambil contoh tempat tidur yang pernah ia buat. Bentuknya kaku sekali. Tapi sampai keluarga kami pindah dari desa di Lampung ke pinggiran Jakarta, bahkan sampai saya kuliah, tempat tidur itu tidak juga rusak. Jangan-jangan benda itu sendiri bosan jadi tempat tidur, saking awetnya.

Terbayang kan hasil truk kayu itu?

Jelek!

Itu kesan pertama saya. Maaf bapak, tapi saya kadung sudah punya patokan sendiri tentang mainan truk kayu yang sempurna.

Truk itu bentuknya nyaris kotak, kaku. Tidak ada ornamen warna seperti truk betulan, apalagi tulisan-tulisan lucu di bak belakang. Warnanya hanya hijau muda dari sisa cat dinding rumah. Rodanya terlihat aneh karena dilapisi karet ban dalam yang dipotong tidak rapi. Kabinnya kosong. Tidak ada kemudi, tidak ada dashboard, tidak ada kursi, dan yang paling menyebalkan: tidak ada suspensinya.

Bayangkan.

Truk macam apa yang tidak punya suspensi?

Apa kata dunia?

~~~

Sore harinya, jalan menuju lapangan tempat kami biasa bermain terasa lebih jauh dari biasanya. Truk hijau muda itu terasa berat saat saya tarik dengan tali plastik.

Bukan karena bobotnya.Tapi karena ada perasaan lain yang ikut tertarik bersamanya: Rasa malu.

Di lapangan, mainan truk-truk kayu lain sudah terparkir rapi di pinggir parit. Mengilap. Rapi. Beberapa anak sedang mengutak-atik suspensinya supaya bisa membawa muatan lebih banyak tanpa terguling. Ketika saya datang, semua mata langsung tertuju pada truk hijau jelek itu.

Mereka menghampiri, membolak-baliknya, melihat konstruksi rodanya, memperhatikan badan kayunya, lalu sesuatu yang tidak saya duga terjadi.

Teman-teman ternyata menyukai truk itu. Mungkin karena berbeda. Mungkin karena bahannya kayu tebal, papan, bukan tripleks tipis seperti mainan truk milik mereka semua. Mungkin juga karena mereka sudah bosan dengan bentuk mainan yang semuanya hampir sama.

Akhirnya kami malah asyik mengutak-atik truk itu bersama-sama. Beberapa teman mencoba menambahkan suspensi sederhana dari potongan besi pipih yang dipukul-pukul dengan batu agar melengkung. Yang lain memperbaiki rodanya agar lebih mulus saat dipakai di jalanan.

Truk kayu jelek buatan saya dan bapak justru menjadi pusat perhatian hari itu.

Kalau mainan bisa bicara seperti di film Toy Story, mungkin truk kayu lain sudah menangis karena diacuhkan.

~~~

Berpuluh tahun kemudian, saya baru mulai memahami sesuatu dari pengalaman kecil itu.

Boleh jadi itulah salah satu perkenalan pertama saya dengan proses kreatif, walau mungkin istilahnya bukan itu. Entah lah apa.

Saat itu saya tidak memikirkan ide, proses, karya, orisinalitas, atau keberanian menjadi berbeda. Saya hanya anak kecil yang ingin punya mainan seperti teman-temannya. Tapi justru di situlah pelajarannya.

Sebuah karya kadang tidak dimulai dari keinginan untuk berbeda. Ia bisa dimulai dari keinginan yang sangat biasa: ingin ikut bermain, ingin punya sesuatu, ingin mencoba, ingin tidak ketinggalan, ingin menjadi bagian dari sesuatu.

Memang keadaan kadang memaksa kita menempuh jalan lain.

Tidak dibelikan, ya buat saja sendiri. Tidak ada tripleks mulus, toh masih ada papan bekas. Tidak ada cat khusus, sisa cat dinding pun jadi. Tidak ada suspensi, maka dibuat bersama-sama.

Meski baru bisa memahaminya jauh di belakang hari, tapi saya merasa menemukan sebuah pelajaran.

Proses berkreasi sering kali tidak lahir dari situasi ideal. Ia lahir dari keterbatasan, dari rasa ingin, dari rasa malu, dari usaha meniru sesuatu yang sudah ada, lalu menerima kenyataan kalau hasilnya tidak akan persis sama, dan mungkin memang tidak perlu sama.

Waktu itu yang saya anggap kekurangan pada truk mainan itu ternyata justru menarik bagi anak-anak lain.

Mengingat kembali momen itu saya jadi berpikir: bisa jadi sebuah karya kadang baru menemukan hidupnya setelah ditarik keluar ke lapangan bernama dunia.

Boleh jadi banyak proses berkreasi bekerja seperti itu. Awalnya kita membuat sesuatu dengan ragu-ragu. Kita merasa hasilnya belum cukup baik. Kita membandingkannya dengan milik orang lain yang kita anggap lebih rapi, lebih matang, lebih indah, lebih pantas dilihat. Lalu kita menyimpannya saja karena takut dinilai.

Padahal bisa jadi, hasilnya akan berbeda justru setelah dibawa keluar. Akan ada saja orang yang melihat kemungkinan yang tidak kita lihat dan itu bisa semakin menunjukkan makna karya kita.

Bukankah sejak kecil sebenarnya kita sudah akrab dengan proses seperti itu?

Anak-anak membuat mainan sendiri. Mengubah benda-benda di sekitar menjadi cerita. Kardus menjadi rumah idaman. Sarung menjadi jubah Superman. Sapu menjadi kuda-kudaan. Tumpukan pasir menjadi pegunungan. Lapangan bola menjadi dunia penuh petualangan.

~~~

Namun seiring bertambah dewasa, ceritanya sering berubah.

Kita mulai mengenal nilai. Bagus atau jelek. Benar atau salah. Berhasil atau gagal. Layak atau memalukan. Sama atau berbeda.

Tanpa disadari, kita diam-diam mulai menyembunyikan truk kayu hijaunya.

Kita menyimpan ide yang terasa terlalu beda atau aneh atau menunda karya yang terasa belum sempurna. Kita mulai berkata, “Saya tidak kreatif,” padahal mungkin yang sebenarnya terjadi adalah kita hanya takut membawanya ke lapangan.

Butuh waktu lama sampai akhirnya saya sadar bahwa berbeda tidak selalu berarti kurang.

Kadang berbeda justru menjadi awal dari percakapan. Ketidaksempurnaan justru membuka ruang orang lain untuk ikut masuk. Sesuatu yang terlihat sederhana bisa saja menyimpan cara berpikir yang lebih jujur daripada sesuatu yang tampak rapi sejak awal.

Gambar anak kecil yang menarik truk kayu yang jadi ilustrasi di laman web ini sudah ada jauh sebelum ia mewujud seperti ini.

Sengaja saya cetak dan tempel di meja kerja sebagai bentuk pengingat ketika pikiran kembali terasa buntu, dan rasa enggan menarik karya itu ke lapangan kembali muncul.

Ilustrasi itu mengingatkan saya tentang tentang seorang anak yang dulu sempat malu dengan truk kayu hijau buatannya sendiri.

Tentang seorang bapak yang mungkin awalnya terkesan tega karena menolak membelikan anaknya mainan, tetapi ternyata ia sedang membukakan pintu untuknya.

Tentang perjalanan panjang untuk memahami bahwa kreativitas tidak selalu datang dalam bentuk karya besar, ide cemerlang, atau bakat yang sejak awal terlihat istimewa.

Apakah di dalam diri Anda pernah ada seorang anak yang dulu berani membuat sesuatu, tetapi seiring waktu malah lebih terdorong untuk menyembunyikannya?

Anak itu mungkin belum pergi jauh. Jangan-jangan dia sedang menunggu kita berhenti sebentar lantas menghampiri dan bertanya:

Hei, mana truk kayumu? Kok nggak dibawa main? Coba ceritakan, seperti apa sih bentuknya?


Tangsel,
26 Juni 2026 (updated)
·Dedicated to my late Dad and Mum, who first opened the door to the world for me. Al Fatihah..