Home About Coaching Training "Ruang Jeda" Books Contact | 🇮🇩ID 🇬🇧EN

Walk With Me

Ini Mainan Truk Kayu Jelek Gue

ChatGPT Image Jun 30, 2026, 09_29_05 PM

Di dunia digital saat ini, ukuran website yang bagus rasanya makin sering bergeser ke arah yang keren, flashy, dan serba canggih.

Ada animasi yang halus. Ada transisi yang rapi. Ada parallax scrolling, hover state, micro interaction, sticky navigation, responsive layout, dynamic content, smooth scroll, scroll-triggered animation, interactive component, visual hierarchy, user flow, conversion path, dan berbagai macam hal lain yang istilahnya saja banyak yang saya pahami secara samar saja.

Tentu tidak ada salahnya. Semua itu punya tempatnya sendiri, sesuai kebutuhan dan pesan yang ingin ditampilkan.

Saya termasuk yang percaya bahwa keseluruhan desain website harus membawa pesan tentang pemiliknya, baik individu maupun institusi. Jagoan desain pasti tahu ini. Bahkan pilihan tone warna atau font pun bisa membawa pesan.

Itu yang saya pikirkan ketika ingin membangun rumah coaching saya di internet.

Saya putuskan memilih bentuk yang sangat sederhana.

Hampir polos. Banyak ruang kosong. Minim efek dan ornamen. Tidak terlalu banyak hal yang ingin menarik perhatian dalam waktu bersamaan.

Bukan karena saya tidak menghargai desain kompleks nan canggih. Tapi karena sejak awal, saya merasa desain situs web saya ini perlu membawa pesan yang sama dengan filosofi creativity coaching yang saya percayai.

Saya percaya bahwa kreativitas tidak selalu harus datang dalam bentuk yang megah, matang, atau penuh kejutan visual.

Kadang kreativitas justru dimulai dari sesuatu yang kecil. Sesuatu yang terbatas, yang belum tentu terlihat keren dari luar, tapi menyimpan cerita yang panjang di dalamnya.

Mungkin karena itu, sebagai ilustrasi saya menambahkan sosok bocah tambun di website ini.

Sosok ini awalnya saya gambar di balik kertas makalah di tengah sebuah seminar, saat kebosanan mulai menyiksa. Saya bayangkan dia bukan sekadar karakter lucu. Dia lahir dari ingatan tentang masa kecil, masa ketika kita belum terlalu sibuk menilai diri sendiri. Masa ketika benda apa pun bisa berubah fungsi. Kardus bekas kulkas bisa jadi rumah. Sarung bisa jadi jubah Superman. Kursi bisa jadi kapal. Lapangan kosong bisa jadi dunia penuh petualangan.

Saya pernah punya pengalaman semacam itu.

Waktu masih “piyik” dulu, bapak pernah mengajak saya membuat mainan truk dari kayu sebagai jawaban dari rengekan saat minta dibelikan mainan seperti itu. Warnanya hijau muda. Bentuknya jauh dari sempurna. Kalau dibandingkan dengan mainan lain yang lebih rapi dan lebih mirip truk sungguhan, truk kayu itu terlihat jelek. Saya menariknya ke lapangan tempat bermain dengan kepala tertunduk. Awalnya begitu. Tautan cerita tentang si bocah tambun itu saya taruh di akhir artikel ini.

Truk kayu itu bukan sekadar benda. Ia adalah pengalaman pertama tentang membuat sesuatu dengan tangan sendiri. Bagaimana saya harus membayangkan sesuatu, mencoba mewujudkannya, lalu membawanya keluar ke dunia dengan segala ketidaksempurnaannya.

Dan mungkin, dalam banyak hal, website ini adalah versi lain dari truk kayu itu.

“Ini mainan truk kayu jelek gue!” truk

Situs web ini adalah penjelmaan dari mainan truk kayu jelek yang pernah saya bawa ke lapangan untuk bermain dengan teman-teman.

Ini adalah sebuah ajakan jalan bersama, bukan sebagai trainer, konsultan, atau motivator, tapi sebagai teman ngobrol dalam perjalanan berkarya. Teman untuk mengurai pikiran, keraguan, dan kemungkinan-kemungkinan yang boleh jadi belum sempat terlihat.

Jelas bukan untuk menunjukkan jalan paling benar. Hanya jadi teman berjalan, sampai jalan yang tadinya samar pelan-pelan terlihat lebih jelas.

Walk with me?

Yuk, janjian berangkat dari rumah saya di suarane.id.

:)

— Tangsel, Menjelang Hari Pertama Juli 2026

PS. Cerita tentang si bocah tambun itu bisa dibaca di sini.

rshm